Jumat, 24 Juli 2026

Ketika Ilmu Pengetahuan Pulang

 



Setiap pagi, sebelum matahari terbit, ada seseorang yang telah memulai pekerjaannya.

Ia bukan ilmuwan.

Bukan profesor.

Bukan pejabat.

Bukan pengusaha.

Ia hanyalah seorang petani.

Dengan tangan yang mengeras karena cangkul, kulit yang menghitam karena matahari, dan langkah yang tak pernah berhenti meski usia terus bertambah, ia berjalan menuju kebun. Di sanalah harapan keluarganya dititipkan pada setiap buah kopi yang dipetik satu per satu.

Tidak ada tepuk tangan ketika panen dimulai.

Tidak ada penghargaan ketika hujan merusak bunga kopi.

Tidak ada kamera ketika harga kopi turun.

Yang ada hanyalah seorang ayah yang terus bekerja, karena di rumah ada keluarga yang menunggu, ada anak yang berharap tetap bisa bersekolah, dan ada masa depan yang bergantung pada hasil panen tahun itu.

Ironisnya, orang yang menghasilkan kopi sering kali tidak pernah benar-benar mengetahui nilai dari kopi yang dipanennya sendiri. Kualitas ditentukan oleh orang lain. Harga ditentukan oleh orang lain. Bahkan masa depan hasil kerjanya sering kali bergantung pada penilaian yang tidak sepenuhnya dapat ia kendalikan.

Di sisi lain, dunia terus berbicara tentang Artificial Intelligence, Internet of Things, Big Data, Computer Vision, dan berbagai teknologi canggih lainnya. Laboratorium berkembang. Publikasi bertambah. Konferensi semakin ramai. Namun sebuah pertanyaan sederhana patut direnungkan.

Apakah kemajuan teknologi telah benar-benar sampai kepada orang yang setiap hari memberi kehidupan melalui tanah yang mereka olah?

Jika teknologi hanya berhenti di ruang seminar, maka ia hanyalah pengetahuan.

Jika penelitian hanya berhenti di jurnal, maka ia hanyalah tulisan.

Tetapi ketika teknologi berjalan memasuki kebun, berdiri di samping petani, membantu mereka mengetahui kualitas hasil panennya, meningkatkan nilai jualnya, dan mengubah masa depan keluarganya, saat itulah ilmu pengetahuan menemukan tujuan sejatinya.

Smart Coffee AI lahir bukan sekadar untuk membangun sebuah mesin. Teknologi ini hadir sebagai sebuah keyakinan bahwa petani berhak memperoleh akses terhadap teknologi yang selama ini hanya dinikmati oleh industri besar. Artificial Intelligence tidak seharusnya menjadi simbol kecanggihan semata, tetapi menjadi alat yang menghadirkan keadilan. Kecerdasan buatan tidak akan memiliki makna apabila hanya mampu mempercepat proses industri, tetapi akan memiliki nilai yang jauh lebih tinggi ketika mampu mengangkat martabat manusia.

Yang sedang diperjuangkan bukan hanya kemampuan sebuah kamera mengenali mutu biji kopi. Yang sedang diperjuangkan adalah hak seorang petani untuk mengetahui nilai dari hasil jerih payahnya sendiri. Yang sedang diperjuangkan adalah agar seorang ayah tidak lagi pulang dengan keraguan terhadap harga kopinya. Yang sedang diperjuangkan adalah agar seorang ibu tidak lagi cemas menghadapi kebutuhan keluarga karena hasil panen yang tidak menentu. Yang sedang diperjuangkan adalah agar seorang anak petani tetap dapat bermimpi melanjutkan pendidikan tanpa harus dibatasi oleh rendahnya nilai jual hasil panen orang tuanya.

Sesungguhnya, penelitian tidak pernah diukur dari banyaknya halaman yang ditulis, jumlah sitasi yang diperoleh, ataupun penghargaan yang diterima. Penelitian menemukan makna tertingginya ketika mampu mengurangi beban kehidupan orang lain.

Universitas tidak hanya bertugas melahirkan lulusan.

Universitas tidak hanya bertugas menghasilkan publikasi.

Universitas memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa ilmu pengetahuan kembali kepada masyarakat yang selama ini menjadi alasan mengapa ilmu itu dikembangkan.

Sebab ilmu bukanlah milik kampus.

Ilmu bukanlah milik laboratorium.

Ilmu bukanlah milik peneliti.

Ilmu adalah titipan yang harus kembali kepada manusia.

Dan mungkin, ukuran terbesar dari sebuah penelitian bukanlah seberapa sering namanya dikutip dalam artikel ilmiah.

Melainkan ketika, di sebuah desa yang jauh dari ruang seminar dan laboratorium, seorang petani memandang hasil panennya dengan lebih percaya diri, tersenyum kepada keluarganya, lalu berkata dengan penuh syukur,

"Hari ini, hasil kerja keras kita akhirnya dihargai dengan semestinya."

Jika suatu hari kalimat sederhana itu benar-benar terucap, maka pada saat itulah sebuah penelitian telah melampaui batas akademik. Ia tidak lagi sekadar menjadi proposal, jurnal, atau laporan penelitian.

Ia telah berubah menjadi harapan.

Dan bukankah tujuan tertinggi ilmu pengetahuan bukanlah agar manusia mengetahui lebih banyak, melainkan agar lebih banyak manusia dapat hidup dengan lebih baik?

Ketika Ilmu Pengetahuan Pulang kepada Petani

 


Ada satu pertanyaan yang terus mengusik hati saya: untuk siapa sebenarnya ilmu pengetahuan diciptakan? Apakah hanya untuk memenuhi kewajiban akademik, menambah daftar publikasi, memperoleh sitasi, atau memenangkan sebuah kompetisi? Jika demikian, maka ilmu berhenti sebagai kebanggaan bagi penelitinya. Namun saya percaya, tujuan tertinggi ilmu bukanlah membuat orang yang memilikinya terlihat lebih pintar, melainkan membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik.

Di negeri ini, ribuan penelitian lahir setiap tahun. Rak perpustakaan semakin penuh, jurnal terus bertambah, dan seminar berlangsung tanpa henti. Semua itu adalah bagian penting dari perkembangan ilmu. Namun, di saat yang sama, masih ada seorang petani yang bangun sebelum matahari terbit, berjalan menuju kebunnya dengan tangan yang kasar dan punggung yang mulai membungkuk. Ia memetik buah kopi satu per satu, menjemurnya dengan penuh harapan, lalu menjualnya tanpa benar-benar mengetahui kualitas hasil jerih payahnya. Harga sering kali ditentukan oleh orang lain, bukan oleh pengetahuan yang ia miliki. Ia menerima keputusan itu, bukan karena setuju, tetapi karena tidak memiliki pilihan.

Ironisnya, orang yang menghasilkan kopi yang kita nikmati setiap hari justru sering menjadi orang yang paling sedikit menikmati nilai ekonomi dari kopi tersebut. Di sinilah saya mulai bertanya kepada diri sendiri: jika ilmu yang saya pelajari tidak pernah sampai kepada orang seperti beliau, lalu apa arti ilmu itu?

Saya menyadari bahwa Smart Coffee AI bukan sekadar tentang Artificial Intelligence, Raspberry Pi, kamera, atau algoritma. Semua itu hanyalah alat. Esensi yang sesungguhnya adalah bagaimana teknologi dapat mengembalikan hak petani untuk mengetahui nilai dari hasil kerja kerasnya sendiri. Selama ini petani sering bergantung pada penilaian orang lain. Dengan teknologi, mereka dapat memiliki data, memiliki informasi, dan memiliki dasar untuk menentukan nilai produknya. Yang berubah bukan hanya kualitas kopi, tetapi juga kepercayaan diri dan posisi tawar petani.

Saya percaya bahwa kemajuan teknologi tidak boleh hanya dinikmati oleh mereka yang berada di gedung-gedung tinggi atau perusahaan besar. Teknologi harus mampu berjalan di jalan tanah, masuk ke kebun, berdiri di samping petani, dan berbicara dengan bahasa yang mereka pahami. Artificial Intelligence akan menemukan maknanya bukan ketika berhasil mengalahkan manusia, tetapi ketika mampu mengangkat martabat manusia. AI bukanlah tujuan, melainkan jembatan agar ilmu pengetahuan kembali kepada orang-orang yang selama ini bekerja dalam diam untuk memberi kehidupan kepada banyak orang.

Karena itu, Smart Coffee AI bagi saya bukan sekadar sebuah proposal lomba atau sebuah penelitian. Ia adalah sebuah ikhtiar agar ilmu tidak berhenti di ruang kelas, laboratorium, atau perpustakaan. Ia adalah upaya agar pengetahuan kembali kepada pemilik hakikatnya, yaitu masyarakat. Saya ingin suatu hari nanti seorang petani tidak lagi berkata, "Saya berharap kopi saya bagus," tetapi dapat berkata dengan penuh keyakinan, "Saya tahu kualitas kopi saya, karena saya memiliki data." Kalimat sederhana itu adalah simbol perubahan yang jauh lebih besar daripada sekadar kemajuan teknologi.

Pada akhirnya, saya tidak ingin penelitian ini dikenang karena jumlah sitasinya, atau karena pernah memenangkan sebuah kompetisi. Saya ingin penelitian ini dikenang karena pernah menjadi alasan mengapa seorang ayah petani dapat membawa pulang penghasilan yang lebih baik, mengapa seorang ibu tidak lagi cemas memikirkan biaya hidup, dan mengapa seorang anak dapat terus melanjutkan sekolahnya. Sebab ukuran terbesar dari sebuah penelitian bukanlah seberapa banyak ia dikutip, tetapi seberapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik karenanya.

Saya percaya bahwa Tuhan tidak menitipkan ilmu pengetahuan kepada manusia untuk disimpan di dalam kepala, melainkan untuk dibawa kembali kepada mereka yang paling membutuhkannya. Dan jika suatu hari Smart Coffee AI mampu membuat seorang petani berkata kepada anaknya, "Hari ini hidup kita sedikit lebih baik daripada kemarin," maka pada saat itulah ilmu pengetahuan telah benar-benar pulang ke tempat yang semestinya.


Senin, 28 April 2025

Alfin Hadir di Setiap Langkah Masayarakat

Sungai Penuh, April 2025Bulan April menjadi saksi nyata bagaimana Wali Kota Sungai Penuh, Alfin, tak henti bergerak mendekatkan diri kepada masyarakat. Di tengah kesibukan agenda pemerintahan, Alfin terus hadir—tidak hanya sebagai pemimpin, tetapi sebagai sahabat yang mendengarkan, merasakan, dan bekerja bersama warganya.

Peringatan Hari Kartini, di mana Alfin menegaskan pentingnya perjuangan perempuan dalam membangun generasi yang berkualitas. "Perempuan adalah tiang keluarga. Dari mereka lahir generasi masa depan yang sehat dan kuat,"  penuh ketulusan. Di acara itu, Alfin juga menggandeng berbagai pihak untuk memperkuat layanan kesehatan bagi ibu dan anak, karena baginya, kesejahteraan berawal dari rumah.

Tak lama berselang, Alfin turun langsung ke lapangan meninjau kesiapan RSUD dalam proses kemajuan. Ia menyapa satu per satu tenaga kesehatan, memastikan pelayanan terus membaik bagi masyarakat. Dalam kesempatan lain, ia juga mendampingi keluarga korban hilang, menunjukkan empati yang dalam. "Di tengah duka, pemerintah harus hadir sebagai penguat," ungkapnya, seraya memberi semangat kepada keluarga yang tengah berjuang.

Bulan April ini juga diwarnai oleh komitmen Alfin dalam membangun ekonomi lokal. Ia bersama jajaran Pemkot aktif mengunjungi petani, berdiskusi tentang peningkatan hasil panen, serta mendorong program pengurangan sampah plastik demi menjaga lingkungan yang lebih bersih. Di lahan sawah yang masih basah, Alfin tak ragu ikut menanam padi bersama petani. Senyum mereka mengembang, karena di sana mereka melihat pemimpin yang benar-benar mau turun tangan.

Selain sektor pertanian, Alfin menggulirkan berbagai inovasi untuk meningkatkan pelayanan publik. Ia mengajak ASN untuk memperbaiki budaya kerja, memastikan setiap pelayanan berjalan lebih cepat, bersih, dan tepat sasaran. Bersama Wakil Wali Kota, ia terus mengingatkan pentingnya gotong royong menjaga kebersihan kota. "Sungai Penuh adalah rumah kita bersama. Mari jaga dan rawat dengan cinta," serunya di hadapan warga saat kegiatan bersih-bersih lingkungan.

Di akhir bulan, Alfin terlihat menghadiri berbagai pertemuan strategis dengan pejabat nasional, membahas percepatan pembangunan infrastruktur dan penguatan program-program kesejahteraan masyarakat. Setiap langkahnya di bulan April ini bukan sekadar rutinitas pemerintahan, melainkan perjalanan panjang merajut harapan untuk menjadikan Sungai Penuh sebagai kota juara—kota yang maju, adil, dan sejahtera bagi semua.

"Perubahan memang tak terjadi dalam semalam, tetapi bersama, kita bisa mewujudkan Sungai Penuh yang lebih baik setiap harinya," tutup Alfin dengan penuh harap.

Alfin, Wali Kota yang Tak Pernah Lelah untuk Warganya

 


Sungai Penuh, April 2025 – Setiap hari di bulan April ini, ada satu sosok yang tak pernah berhenti bergerak. Ia datang ke sawah, masuk ke puskesmas, berdiri di tengah-tengah rapat, dan bahkan menyempatkan waktu di momen-momen paling tak terduga. Dia adalah Alfin, Wali Kota Sungai Penuh.

Di mata banyak orang, Alfin hanyalah seorang wali kota. Tapi bagi mereka yang pernah bertemu langsung dengannya, ia adalah sahabat yang mendengar, kakak yang menuntun, dan kadang seorang ayah yang tegas.

1. Ketika Ia Menanam Padi, Bukan Hanya Tanah yang Ia Sentuh, Tapi Hati Petani

Pagi itu, lumpur sawah mengotori sepatu dan celana panjangnya. Alfin berdiri di tengah-tengah petani, ikut menanam padi.
"Mereka tak butuh pidato panjang lebar, mereka butuh tangan yang mau bergerak bersama mereka," ucapnya singkat, sambil membetulkan topi caping yang dikenakan.

Bagi Alfin, pertanian adalah nadi Sungai Penuh. Ia tahu, jika petani tersenyum, seluruh kota akan ikut tersenyum. Karena itu, ia memilih untuk merasakan langsung apa yang mereka rasakan—panas, lelah, tapi ada harapan.

2. Saat  Keluarga Korban Hilang, Air Mata Itu Tak Bisa Ditahan

Di ruang yang sederhana, Alfin keluarga korban hilang. Mereka bercerita, sambil terisak. Alfin tidak banyak berkata, ia lebih banyak diam, mendengarkan.

"Pak, terima kasih sudah datang. Kami hanya ingin didengar".

Hari itu, Alfin sadar, menjadi pemimpin bukan hanya tentang menyelesaikan masalah, tapi juga hadir di saat orang merasa paling lemah. Ia pulang dengan hati yang penuh tekad: tidak akan ada warga yang merasa sendirian.

3. Di Peringatan Hari Kartini, Ia Bicara Tentang Perempuan, Tapi Juga Tentang Masa Depan

Dengan suara yang tenang tapi tegas, Alfin berbicara tentang pentingnya perempuan.
"Bukan hanya karena kita memperingati Kartini, tapi karena saya percaya, di tangan perempuanlah masa depan Sungai Penuh ini dibentuk."

Ia bicara tentang kesehatan, pendidikan, dan perlindungan untuk anak-anak. Tapi lebih dari itu, ia bicara tentang mimpi—mimpi bahwa suatu hari nanti, Sungai Penuh akan dipimpin oleh generasi perempuan hebat yang lahir dari keberanian hari ini.

Di bulan April ini, langkah Alfin mungkin terlihat biasa saja bagi orang yang tak memperhatikan. Tapi bagi mereka yang memperhatikan lebih dekat, setiap langkahnya adalah pesan: Sungai Penuh adalah rumah yang harus kita jaga bersama.

Minggu, 08 Desember 2024

Dr. Oldy, A. A : Dampak Penambahan Kuota Beasiswa terhadap Universitas Muara Bungo dan Masyarakat

 


Muara Bungo, 8 Desember 2024 – Penambahan kuota beasiswa di Universitas Muara Bungo (UMB) menjadi salah satu langkah strategis yang tidak hanya memberi dampak positif bagi mahasiswa penerima beasiswa, tetapi juga berpotensi memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan kualitas akademik di UMB dan pemberdayaan sosial-ekonomi di daerah asal mahasiswa. 

Dr. Oldy, Dosen Fakultas Ekonomi UMB, dalam sebuah artikel ilmiah yang diterbitkan baru-baru ini, menguraikan berbagai dampak yang dihasilkan oleh peningkatan kuota beasiswa, yang tidak hanya berdampak pada kampus, tetapi juga masyarakat secara luas.

Dampak Positif bagi Universitas Muara Bungo

Penambahan kuota beasiswa di UMB berpotensi meningkatkan kualitas akademik mahasiswa. Dengan adanya beasiswa, mahasiswa yang sebelumnya terkendala biaya pendidikan kini dapat lebih fokus pada studi mereka tanpa terbebani masalah finansial. 

Beasiswa ini memberikan insentif bagi mahasiswa untuk mempertahankan nilai akademik yang tinggi, dengan target IPK di atas 3, sebagai syarat kelangsungan beasiswa. "Kami berharap budaya akademik di UMB semakin berkembang, dengan para mahasiswa yang berkompetisi untuk mencetak prestasi terbaik," ungkap Dr. Syafrialdi, Rektor UMB.

Selain itu, Dr. Oldy juga menekankan bahwa pemberian beasiswa ini dapat memperkuat solidaritas di kalangan mahasiswa. Mahasiswa yang berasal dari berbagai latar belakang akan saling mendukung dan berkolaborasi untuk mencapai tujuan akademik mereka, sehingga memperkaya atmosfer kampus dan memperluas jaringan alumni yang lebih solid.

Kontribusi Bagi Masyarakat dan Daerah Asal Mahasiswa

Salah satu tujuan utama dari program beasiswa ini adalah untuk memberikan akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa dari daerah terpencil yang memiliki keterbatasan ekonomi.

Dr. Oldy menjelaskan bahwa setelah menyelesaikan studi, mahasiswa ini diharapkan dapat kembali ke daerah asal mereka dan memberikan kontribusi dalam pembangunan sosial dan ekonomi. “Kami berharap mereka kelak menjadi orang-orang pintar yang bisa membangun dusun mereka,” kata H. Andriansyah, Ketua Yayasan UMB.

Keberadaan program beasiswa juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di daerah-daerah asal mahasiswa. Lulusan UMB yang kembali ke kampung halaman mereka dapat berperan penting dalam sektor-sektor seperti pendidikan, kesehatan, dan ekonomi lokal, memperkuat pembangunan di tingkat daerah.

Kajian Ilmiah: Penelitian Dampak Jangka Pendek, Menengah, dan Panjang

Dalam artikelnya, Dr. Oldy juga menyoroti potensi penelitian ilmiah yang dapat dilakukan untuk mengukur dampak program beasiswa ini. Dalam jangka pendek, penelitian dapat berfokus pada pengaruh beasiswa terhadap kinerja akademik mahasiswa. 

Sementara dalam jangka menengah, penelitian dapat menilai pengaruh beasiswa terhadap karir lulusan dan kontribusi mereka terhadap daerah asal. Kajian jangka panjang bahkan dapat mengukur dampak sosial dan ekonomi dari para lulusan beasiswa dalam mengembangkan daerah mereka, serta bagaimana UMB berperan dalam penelitian dan inovasi yang berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan.

Keberhasilan UMB dalam Menambah Kuota Beasiswa

Keberhasilan Universitas Muara Bungo dalam menambah kuota penerima beasiswa dari 88 menjadi 129 orang merupakan langkah besar dalam memberikan kesempatan pendidikan bagi lebih banyak mahasiswa yang berasal dari daerah terpencil.

 "Dengan tambahan beasiswa ini, kami berharap lebih banyak mahasiswa yang bisa melanjutkan pendidikan tinggi tanpa khawatir masalah biaya, dan kelak mereka bisa kembali dan mengembangkan daerah mereka," tambah H. Andriansyah.

Penambahan kuota beasiswa di Universitas Muara Bungo membawa dampak positif tidak hanya bagi mahasiswa tetapi juga untuk kemajuan universitas dan pembangunan daerah. 

Keberhasilan ini memperlihatkan komitmen UMB untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan serta berperan aktif dalam pemberdayaan sosial-ekonomi melalui pendidikan yang merata. Dengan terus mendukung mahasiswa berprestasi dan memberdayakan daerah-daerah yang membutuhkan, UMB semakin memantapkan posisinya sebagai institusi pendidikan yang unggul.

Ke depan, UMB akan terus melakukan evaluasi dan pengembangan program beasiswa untuk memastikan dampaknya dapat dirasakan oleh lebih banyak mahasiswa, masyarakat, dan juga negara.

Sabtu, 07 Desember 2024

Yayasan Universitas Muara Bungo Tambah Kuota Beasiswa Mahasiswa, Menjadi 129 Peserta


Muara Bungo, 7 Desember 2024 — Ketua Yayasan Universitas Muara Bungo (UMB), H. Andriansyah, S.E., M.Si, bersama Rektor UMB, Dr. Syafrialdi, S.Pi., M.Si, berhasil memperjuangkan penambahan kuota penerima beasiswa bagi mahasiswa. Jumlah penerima beasiswa yang awalnya hanya 88 orang kini bertambah menjadi 129 orang. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata perjuangan keras mereka untuk terus membesarkan UMB.

H. Andriansyah menyatakan bahwa penambahan kuota beasiswa ini merupakan langkah penting dalam memastikan para mahasiswa dapat menempuh pendidikan tinggi dengan lancar. "Mayoritas mahasiswa di UMB berasal dari dusun-dusun terpencil. Dengan adanya beasiswa ini, mereka bisa kuliah dengan tenang dan diharapkan kelak menjadi orang-orang pintar yang mampu membangun dusun mereka," ujarnya.

Lebih lanjut, H. Andriansyah menambahkan bahwa perjuangan untuk memperoleh tambahan kuota ini adalah bagian dari komitmen Yayasan UMB dalam mendukung pendidikan bagi masyarakat, khususnya yang berasal dari daerah terpencil.

Sementara itu, Rektor UMB, Dr. Syafrialdi, menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang terjalin antara seluruh elemen di kampus. "Keberhasilan ini tidak lepas dari kerja sama seluruh civitas akademika UMB. UMB bisa besar dan maju karena adanya kesatuan antara dosen, karyawan, dan semua pihak yang peduli terhadap kemajuan universitas ini," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor UMB juga mengungkapkan harapannya agar budaya akademik di UMB terus berkembang. "Kami berharap dengan adanya peningkatan kuota beasiswa ini, kualitas akademik di UMB juga semakin meningkat. Kami bertekad menjadikan UMB sebagai kampus terdepan dalam kajian ilmiah dan riset, di mana setiap mahasiswa memiliki kesempatan untuk berkontribusi dalam penelitian-penelitian yang relevan bagi masyarakat dan pembangunan daerah," jelas Dr. Syafrialdi.

Hal senada disampaikan oleh H. Andriansyah, yang menambahkan, "Kami ingin UMB menjadi lebih dari sekadar tempat untuk menimba ilmu. Kami ingin UMB menjadi pusat penelitian yang menghasilkan pemikiran-pemikiran baru dan solusi konkret untuk permasalahan masyarakat, baik di tingkat lokal maupun global."

Dengan bertambahnya jumlah penerima beasiswa, diharapkan semakin banyak mahasiswa yang dapat meraih impian mereka melalui pendidikan yang lebih baik, serta memberi dampak positif bagi kemajuan daerah asal mereka. Ke depan, UMB diharapkan mampu terus tumbuh menjadi kampus yang tidak hanya mencetak sarjana berkualitas, tetapi juga menghasilkan riset dan inovasi yang berdampak luas.

Ketika Ilmu Pengetahuan Pulang

  Setiap pagi, sebelum matahari terbit, ada seseorang yang telah memulai pekerjaannya. Ia bukan ilmuwan. Bukan profesor. Bukan pejabat. Buka...

Struktur Sungai

Struktur Sungai

POLA RUANG SUMATERA

POLA RUANG SUMATERA

Kec. Jambi Selatan - Kota Jambi

Kec. Jambi Selatan - Kota Jambi

BERHALE ISLAND

Pulau Berhala
Large selection of World Maps at stepmap.com
StepMap Pulau Berhala


ISI IDRISI TAIGA

ISI IDRISI TAIGA

HOW TO GOIN ON BERHALE ISLAND

Kota Jambi

Desa Batu Kerbau - Kab. Bungo

Desa Batu Kerbau - Kab. Bungo

TERAKHIR DI UPDATE GOOGLE

COMMUNICATE

+62 812731537 01